Broken Heart Syndrome
Broken Heart Syndrome:
Apa itu broken heart syndrome?
Broken heart syndrome (BHS) atau sindrom patah hati merupakan salah satu penyakit jantung yang sifatnya sementara. Kondisi ini bisa terjadi karena situasi yang menyebabkan stres hingga membuat Anda menjadi emosional.
Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika Anda mengalami kondisi ini akibat suatu kondisi medis tertentu. Penyakit ini memiliki beberapa nama lain, yaitu takotsubo cardiomyopathy, apical balloning syndrome, atau stress cardiomyopathy.
Adanya penyakit ini menandakan bahwa serangan jantung tidak hanya penyakit jantung koroner Akan tetapi, mungkin saja terjadi karena gangguan mental
Adanya riwayat stres emosional dapat menjadi pembeda broken heart syndrome dengan penyakit jantung koroner dalam menyebabkan serangan jantung.
Kondisi ini bisa sembuh tanpa meninggalkan kecacatan permanen pada ventrikel jantung. Hanya saja, dalam sebagian kasus, kondisi ini bisa menyebabkan kondisi yang fatal atau kematian.
Siapa saja yang dapat terkena broken heart syndrome?
Sindrom patah hati tergolong dalam kelainan psikosomatis yang spesifik pada sistem kardiovaskuler. BHS dijumpai pada 86-100% wanita berusia sekitar 63-67 tahun.
Sebagian besar kasus broken heart syndrome terjadi pada wanita, khususnya yang telah mengalami masa menopause. Walau begitu, BHS dapat menyerang semua usia tanpa terkecuali.
Di Amerika Serikat, BHS dialami oleh 4,78% pasien dengan gambaran klinis STEMI atau unstable angina sebuah gambaran yang mirip penyakit jantung koroner. Sementara itu, di Indonesia sendiri, jumlah kasus BHS belum dapat diketahui dan hanya sebatas pada laporan kasus.